badge Ukhwah Asyifusyinen | Ruang Inspirasiku..

Resolusi, Tahun Telah Berganti

“T, apa resolusimu di tahun 2017 ?”
“Tidur pada malam, dan Terjaga kala Pagi”.
“Resolusi macam apa itu ?”
“yaaa, Resolusi dari kami pencinta kopi pada tetesan kata dilarut malam yang tidak pernah bertemu mentari pagi bersinar !”
“Yakin Kuat ??? Hahahaha “
“Doakan saja, Semoga Selalu dalam Istiqamah.”

Aku bahkan tidak tahu waktu yang persis sama sekali di jam tanganku, yang aku tahu saat itu bumi sedang menggenapkan putarannya pada matahari dan lalu manusia merayakannya dengan warna-warni yang di anggap dapat mengusir sepi. Tahun berganti, cangkir di ganti cangkir lain lagi meski isinya masih sama “Kopi”, mana mungkin pencinta melupai hal yang ia cintai.

Tahun 2016 berlalu, tahun di mana aku selalu di rayu malam untuk bercumbu, lalu mengkhianati pagi pada pulas hilang rasa dan rindu, hanya secuil mimpi yang melenakan mentari, lalu kemudian tertidur lagi melanjutkan mimpi, bukan menggapainya dalam usaha yang di iringi Doa, dan namun kini tahun berganti, akupun harus berganti, menjadi lebih berarti.

Resolusi tahun ini adalah menjadi manusia baru pada kehidupan yang bukan keterbalikan, tidur dikala malam, dan terjaga di waktu pagi, cukup itu saja untuk menjadi lebih berarti, namun itu tidak membuatku melupakan kopi, sebab tidak ada ceritanya seorang pencinta lupa pada kecintaannya, so, kopi akan tetap menjadi teman sepi berbagi inspirasi.

Nanti, pada rentan waktu yang bersahutan aku jua ingin terbang bebas sebebas-bebasnya pada kepakan sayap kenekatan yang menghilangkan ketergantungan pada hal-hal yang rasa-rasanya terlalu memalukan untuk di ulangi. Dan jika nanti aku bisa, harus bisa, suatu kali akan ku ajak engkau terbang disisiku menikmati panorama pada puncak keindahan kala senja temaram di pangkuan cakrawala.

Lalu satu per satu akan kita lewati, hingga pada akhirnya kita sama-sama paham arti dari kata sejati, yaaa sejati yang sekarang kuartikan sepi.

Sekarang tahun telah berganti, yang hidup kian menjemput mati, resolusi, tunggu apa lagi. (aa) 

DURHAKANYA SENDIRI



Pada malam pekat tak kunjung jelagat jelita,

Angkasa yang kadang kala murung dalam kerlap,

Awan yang masih pekat akan mendung masih saja bersenandung,

Menyanyikan rinai yang menggigilkan tulang belulang,

Apa yang mampu diberikan jiwa pada hilang,

Seamsal rinai hujan yang menyumpah serapah alam,

Dingin, bak raga yang mulai hilang dari sebuah pelukan,

Bahkan dalam kadang ikut pula di tertawakan rumput ilalang,

Yang menari di tiup angin kerinduan,


Sepi, Sepi, Sepi, Kosong Melompong tanpa Isi,

Namun apa yang dapat di janjikan kehidupan ?

Pada Bi áh-Bi áh yang kita patrikan,

Bersama, untuk di tinggalkan atau meninggalkan,

Untuk melupakan atau dilupakan,

Hingga kesepian sosok kawan sejati dalam kehidupan,

Sedurja itulah bahagia, sedurhaka engkau yang pergi meninggalkan sepi,

Sedurhaka durja mengajariku mencintai sepimu.

Bireuen, 03 Jan 2016

BELAJAR MENCINTAI SEPI


Sebenarnya ini bukan tentang kesepian, bukan itu.
Kerena aku tahu bahwa pada akhirnya kesepian adalah sebuah keharusan,
Saat mereka hilang atau menghilang, di tinggalkan atau meninggalkan, di ruang yang sama atau dimensi yang berbeda, dan kali ini sepi milikku, aku sangat tau itu.
Tapi kau tau, apa yang membuatku tersendak begitu hebat,
Kenyataan yang terlalu cepat menemuiku bahwa sepi menjadi pelipur laraku saat kepergianmu. Sekejap, namun mampu membuatku nelangsa setengah mati.
Kau tau, rasanya sebentar sekali engkau disini, meneteskan kebahagiaan untukku, rasanya selaksa Rinai hujan yang begitu cepat berganti kemarau gersang, gerah akan kerinduan.
Dan pada air mata yang menetes, pada hati yang tergores, kuselipkan perpisahan panjang untukmu, pada kebahagiaan yang pernah kau ukir, pada pahit yang pernah kita cicip, pada sekelibat kenangat suka duka saat engkau masih disini, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu cepat engkau beranjak, hingga mereka berfikir engkau teramatat jahat meninggalkanku, tanpa mereka sadari akulah yang mengajarimu hal itu, mereka berfikir engkau tak setia, tanpa mereka paham akulah yang mengajarimu mendua, justru engkaulah yang mengajarikan mencinta padahal aku dulunya adalah penggila, hingga saat ini aku masih menjadi pencinta, mencintai yang engkau tinggalkan pada kesepian sejati, apalagi selainnya ?

Dan pada sepi yang engkau tinggalkan, aku mulai paham bagaimana hakikat cinta, pada sendiri atau berdua sejatinya memang sama saja, sebab cinta untuk bahagia dan tiada seorangpun yang mampu menciptakan bahagia kecuali diri kita, sendiri atau berdua sejatinya sama saja.
Selamat tinggal, engkau yang dulunya bukan untukku kini kembali bukan untukku, engkau yang dulunya bukan kecintaanku kini kembali bukan kecintaanku, hanya saja engkau yang dulunya bukan alasan kerinduanku namun kadang kala kerinduanku memilih alasan untukmu, Selamat tinggal Meulati, bunga mataku, qalbu jiwaku, aroma rinduku yang dulu, Selamat tinggal engkau yang pernah kutunggalkan hingga tiba saat kecintaanku adalah sepi yang melenakan, selamat tinggal.

PASCA DEBAT KANDIDAT "APA KARYA" MENJADI TRENDING TOPIK


Pasca debat kandidat Cagub-Cawagub Aceh (22/12/16), "Apa Karya" (nama keren Zakaria Saman) menjadi trending Topik di Indonesia umumnua dan di Aceh khususnya, baik itu di maya (fb, bbm, line, ig, twit, dsb), begitu juga di nyata (warkop khususnya), bagaimana tidak, "Apa" yang dengan gaya heroiknya mampu memukai masyarakat Aceh hanya dengan satu dua kalimat saja, Tak hanya itu, Apa juga membuat Peraga Bahasa mati kutu hingga gaya tangan keseleo di tunjukkan oleh peraga dalam isyarat yang membiru-bisu.

Zakaria Saman yang pertama sekali mendapatkan pertanyaan tentang keamanan langsung menjawab"

"Saya rasa fakir miskin di gampong-gampong dulu yang paling utama. Kalau perut sudah aman, orang nggak berontak lagi," sebut Apa Karya

Kata-kata itupun menjadi viral di Aceh, banyak natizen menjadikannya sebagai status, baik itu di BBM dan juga di Beranda FB, "Menyoe Pruet Ka Meuasoe, Hana Berontak-Berontak lee" begitu tulis natizen.

Tak hanya itu, pernyataan "Apa" di akhir acarapun mendapatkan Aplaus dari berbagai elemen masyarakat,

"Mandum Kalheh Duk Bak Pangkue Gubernur, Apa yang goloem, bah kalinyoe neupileh apa menang, Meseu Apa taloe, Apa menang cit, Lon woe u rumoeh poet-poet droe" Sebut Apa Karya

(Semua sudah pernah menjadi gubernur, Apa yang belum, jadi biar apa saja yang menjadi gubernur tahun depan, jikapun apa kalah, apa tetap menang, Bisa santai kipas-kipas diri) 😂

Pernyataan-pernyataan "Apa" yang cepat dan spontan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri di mata masyarakat, bahkan kaum kaula muda yang sedikit alai menyandingkan nama apa dengan kata "Telolet", sebuah kata yang mendunia sekarang ini.

" Apa Telolet Apa" begitu tulis mereka.

HUJAN


Malam masih jelaga, belum-pun larut kuasa,


Rembulan masih tiada, meringkuk kedinginan dalam selimut awan pekat,


Menggigil hingga ketulang belulang, bagai raga hilang pelukan,


Kadang terseret-seret keluar kala angin menganggu nakal,


Selimut dibawanya, tak lama selimut lain masih mendung merona,


Bintang-bintang ikut tenggelam, takut kedinginan,


Meski sesekali seamsal bocah-bocah yang berhamburan keluar,


Menari di dalam hujan kerinduan,


Atau seamsal gersang yang mulai bosan menunggu rinai,


Memecahkan aroma geliat yang tak kunjung basah,


Rinai-Rinai selanjutnya masih kurindukan selaksa engkau,

Selalu menjadi rintik terakhir,


Yang membasahi kerinduan yang tiada akhir,
Bireuen, 22 Des 2016



Ikuti Kami

notifikasi
close